Langsung ke konten utama

Postingan

Gadis Pohon Maple Bagian 2

“Lintang, kamu mau seperti ini sampai kapan?” tanya Tania terhadap sahabatnya itu. Bukan menjadi hal asing bagi Tania jika melihat sosok sahabatnya yang selalududuk termenung di bawah pohon maple itu.
“Sampai Arkan kembali dan seperti dahulu lagi.” jawab Lintang. “Sejujurnya kemarin aku melihatnya tetapi ia seperti tak ingat kepadaku. Aku tak mungkin salah lihat bukan. Ia bukan sosok Arkan yang ku kenal.” lanjutnya. “Benarkah?” tanya Tania dengan raut muka kagetnya. “Mana ada aku bohong Tan.” Lintang sangat yakin itu Arkan. Pembicaraan itu berakhir ketika dokter Lastri memanggilnya seperti biasa. @@@@@@@@
“Kemarin aku tak sengaja melihat cewek yang pingsan dan hampir jatuh. Aku membawanya ke rumahsakit tetapi ada yang aneh tau ga, Kan.” Dito bercerita panjang kali lebar. “To the Point aja ngapa dah.” Arkan masih dengan gaya cueknya. “Anehnya dia manggil-manggil namamu ketika siuman.” Arkan langsung menghentikkan aktivitasnya mendengar apa yang diucapkan Dito. “Ga percaya aku. Kebetulan aja nama…
Postingan terbaru

Gadis Pohon Maple

Gadis Pohon Maple
Siluet senja menembus sela-sela pohon maple. Satu-satunya pohon yang di tanam di ujung pekarangan rumah Lintang. Tepat di bawah pohon di berikan kursi taman. Tempat itu adalah tenpat di mana ia membuat janji masa kecil dengan sahabat kecilnya.
15 tahun berlalu, tak ada yang berubah dalam hidupnya. Lintang selalu yakin akan kehadirannya kembali. Ia tak pernah lelah menunggu. Ia gunakan topi untuk menutup kepala yang rambutnya kian menipis. Ia tak ingin melewatkan senja barang sedetikpun setiap sorenya. “Lintang, masuk rumah dulu yuk.” ajak seorang paruh baya. Dokter yang merawatnya selama ini. Orangtuanya bekerja keras untuk membayar biaya rumahsakitnya selama ini. “Masih ingin di sini dok.” jawabnya masih dengan posisi duduknya. Dokter Lastri hanya bisa menatap sendu Lintang. @@@@@@
Suatu hari Lintang sedang jalan-jalan menikmati sejuknya pagi. Tiba-tiba ada seseorang yang menyerempetnya menaiki sepeda. “Kring..kring.” dengan percaya dirinya ia malah melenggang pergi begitu…

Ketika Cinta Mewujudkan Impian (Setetes Tinta Hitam)

Di kelas
Intan: “Hay Rey, kamu lagi nulis apaan sih.” (basa-basi) Reina: “Nggak nulis apa-apaan.” (buru-buru memasukkan bukunya kedalam tas). Intan: Owhh.. kok kamu main rahasia-rahasiaan sih.” Reina: “ Biarin, darimana saja kamu kok baru masuk kelas,gerombolan lagi.” Intan: “Dari ngumpul tadi.” Reina: “Ohh.” Intan: “Kok cuman oh, sih, kamu nggak kepo gitu.” Reina: “Terus aku harus gimana.”
Tettettet.........
Tiba-tiba Pak Doni guru IPA Biologi sudah berada di depan kelas.
Pak Doni: “Tok tok tok. (menggedor-gedorkan penghapus di papan tulis) semua diam. Kalian nggak dengar bel apa?” Semua Murid: “Ya,Pak.” ( langsung duduk di kursi masing-masing) berbeda dengan Reina yang sudah duduk manis di kursinya sejak tadi.
Tok.. tok.. tok (sambil membuka pintu) Pak Doni: “Ya silahkan masuk, kamu murid baru itu ya?”

Penyembuh Lara

Kini aku berteman dengan sepi. Luka yang kamu goreskan menganga tanpa penyembuhnya. Terguyur hujan kian membuatku merana. Jika hujan bisa meluruhkan ingatan aku akan hujan-hujanan tanpa henti. Tapi nyatanya tidak. Luka ini terlalu mendadak. Sedetak seperti kepergianmu.

Bagaimana bisa aku mengubur kenangannya? Jika terlalu banyak kenangan yang telah tertata. Bahkan memoriku selalu tentangmu. Salahkah jika aku masih mengingatmu? Salahkah jika aku masih mengharapkanmu? Hari telah berganti minggu. Minggu telah berganti bulan. Dan bulan telah berganti tahun. Seperti terkurung dalam ingatan yang tak akan terlupa.
Malam yang dingin kian menusuk. Menambah lara yang masih terpelihara. Seperti terpagar besi tinggi. Hati ini telah kamu kunci. Dan membutuhkan kunci baru untuk membukanya. Kini hidupku berantakan. Pergimu yang kau anggap tak ada arti. Membuatku takut untuk mengenal kembali seseorang.
Gesekan biola mengalun nada indah. Kini menggetarkan jiwaku. Itukah kamu? Karena lewat nada itu aku me…

Ketika Cinta Mewujudkan Impian (Setetes Tinta Hitam)

Hari ini cuaca sangat cerah, secerah hati Reina yang semangat sekali untuk berangkat sekolah, sudah sejak tadi pagi persiapannya sudah selesai, entah apa yang membuatnya seperti ini, biasanya bangun aja harus dibangunin mamanya, dengan rambutnya yang dikucir asal-asalan membuatnya tambah cantik tambah juga kulit putih langsat dan lesung pipinya membuat tambah imut. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya dari bawah. Ya siapa lagi kalau bukan mamanya. Mama Reina: “Reina, sayang jangan lupa sarapan dulu ya. Papa sama adik kamu sudah nungguin di meja makan.” (teriak mama) Reina: “Iya ma, sebentar lagi.” (sambil bercermin)
Di meja makan
Papa Reina: “Rey, gimana sekolah kamu ?” Reina: “Baik, pa.” (sambil menyantap roti tawar yang sudah diolesi mentega) Reina: “Oh iya pa, ma aku berangkat dulu ya.” Ntar bisa terlambat nih.” (tambahnya lagi)
Reina langsung mencium tangan pap dan mamanya, lalu menyambar tasnya dan melesat pergi. Papa Reina: “Papa antar saja ya, sayang, kan biasanya juga diantar sekal…

REVIEW NOVEL “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”

REVIEW NOVEL “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”
Judul : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Pengarang : Tere Liye Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tebal : 264 halaman
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih di kepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah…. Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun..daun yang tidak pernah membenci angin meski harus t…

Review Film Live Action Anohana

“Persahabatan yang di bangun sejak kecil tetapi bubar begitu saja ketika salahsatu di antara mereka ada yang meninggal dunia. Kejadian itu menyebabkan mereka menyalahkan diri-sendiri dan memilih jalannya masing-masing.”
Source : google
Pertamakalinya nonton film ini tahun 2016 di mana teman sekelas merekomendasikan dan berakhir untuk menonton film bersama di dalam kelas. Cerita yang di kemas membuat haru dan menitikkan airmata seluruh teman sekelasku. Masih ingat betul waktu itu, hingga aku kemarin memutuskan untuk menonton ulang film ini (sekalian nostalgia gitu ceritanya :v). Sudah ketiga kalinya tetapi saya tetap terhanyut dalam alur ceritanya. Pokoknya siapin tisu banyak-banyak deh kalau mau nonton film ini. hehehehe.
Film ini mengisahkan persahabatan yang dinamakan “Super Peace Busters” yang bertekad untuk menciptakan perdamaian dan akan bersahabat selamanya. Tetapi semuanya sirna ketika salahsatu anggota mereka “Menma” meninggal dunia dikarenakan jatuh ke dalam jurang yang curam. S…