Postingan

Menampilkan postingan dengan label Prosa

Penyembuh Lara

Kini aku berteman dengan sepi. Luka yang kamu goreskan menganga tanpa penyembuhnya. Terguyur hujan kian membuatku merana. Jika hujan bisa meluruhkan ingatan aku akan hujan-hujanan tanpa henti. Tapi nyatanya tidak. Luka ini terlalu mendadak. Sedetak seperti kepergianmu. Bagaimana bisa aku mengubur kenangannya? Jika terlalu banyak kenangan yang telah tertata. Bahkan memoriku selalu tentangmu. Salahkah jika aku masih mengingatmu? Salahkah jika aku masih mengharapkanmu? Hari telah berganti minggu. Minggu telah berganti bulan. Dan bulan telah berganti tahun. Seperti terkurung dalam ingatan yang tak akan terlupa. Malam yang dingin kian menusuk. Menambah lara yang masih terpelihara. Seperti terpagar besi tinggi. Hati ini telah kamu kunci. Dan membutuhkan kunci baru untuk membukanya. Kini hidupku berantakan. Pergimu yang kau anggap tak ada arti. Membuatku takut untuk mengenal kembali seseorang. Gesekan biola mengalun nada indah. Kini menggetarkan jiwaku. Itukah kamu? Karena lewat n...

Berbaur dengan Alam Semesta

Angin semilir menambah sejuknya suasana. Hari ini adalah hari yang akan jadi kenangan terindah dalam hidupku. Hari ini aku mengerti. Mengerti tentang makna sebuah perjalanan, tentang alam dan semesta. Semesta kali ini mengajakku berbicara tentang keindahannya. Senja yang menyambut kedatanganku untuk pertamakalinya di atas awan. Aku memandang sekeliling, takjub dan merasa tidak sia-sia setelah berjalan mendaki, menerjang segala rintang. Sungguh, semesta aku jatuh cinta untuk pertamakalinya. Di sambut pagi dengan terbitnya mentari, muncul malu-malu menampakkan dirinya. Secangkir kopi tak lupa menemaniku menikmati keindahannya. Begitu lengkap dengan berkumpulnya sahabat tercinta. Di tambah petikan gitar dan suara sumbar di pagi ini. Menjadikan kenangan yang begitu lengkap dan sempurna. Tak ingin berlalu begitu saja, jika bisa aku ingin menghentikan waktu sejenak agar bisa bersama-sama lebih lama. Obrolan yang bercampur dengan canda hingga membuat ketawa-ketiwi. Aku akui kadang meman...

Apa Kabar Hati?

Apa Kabar Hati? Waktu demi waktu sudah berlalu. Tak menyangka bukan? Sepertinya baru kemarin kita sering bertengkar di dalam kelas. Sepertinya baru kemarin kamu bercanda dan tertawa bersamaku dan menjadikanku sandaran atas keluh kesahmu. Sepertinya baru kemarin kamu memilih hati yang baru dan bertekad untuk meninggalkanku. Bagaimana bisa aku percaya padamu? Padahal dalam kenyataan kamu membagi hati untuk sahabatku. Dua tahun berlalu, dan dilalui tanpa kehadiran seseorang yang cukup berarti. Kata move on mungkin sudah aku dengar berkali-kali dari sahabat-sahabatku. Tetapi bagaimana bisa? Jika hati tetap memilihmu. Aku merelakanmu pergi tetapi kenapa harus sahabatku sendiri yang menggantikanku? Bagaimana bisa kamu menutup rapat hubunganmu dengannya ketika bersamaku. Apakah kamu tidak pernah berfikir tentang perasaanku sama sekali? Bagai daun kering yang jatuh dan diinjak oleh banyak orang. Sepertinya aku tidak berarti sekali dalam hidupmu. Kali ini aku menyerah. Jika kamu lebih b...

Secret Admirer

Secret Admirer Hallo sahabat penaku, Pernahkah sahabat menjadi seorang pengagum rahasia? Btw , ini bukan kisah nyata ya, sekadar ide yang tiba-tiba muncul untuk di ungkapkan dalam rangkaian kata. Pengagum rahasia atau lebih di kenal sebagai secret admirer . Kadang menjadi seorang secret admirer itu lebih membahagiakan dan menjadi suatu hal yang istimewa bagiku. Tidak harus mengungkapkan segala isi hati, cukup aku dan Allah yang mengetahui. Mengagumimu dari jauh itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku dan aku tidak meminta untuk lebih dari ini. Perjalanan demi perjalanan kulalui, lika-liku bahkan terjal aku hadapi. Meskipun di lubuk hati aku ingin kamu melihatku sekali saja, tetapi aku selalu mengurungkan niat untuk itu. Karena aku cukup tau untuk menjadi posisi yang sesuai denganmu. Aku hanya perempuan sederhana yang selalu berharap akan kehadiranmu di sampingku. Seperti langit dan bumi yang jauh dan tidak akan pernah bertemu dan menyatu. Bukan aku menjadi seorang ...

Ruang Rindu

Pagi yang selalu aku harapkan datang bersama dengan munculnya mentari di ufuk timur. Kali ini aku menyaksikan dalam kesendirian. Memberikan ruang untuk mengingat segala kenangan. Aku bebaskan raga berkelana menjelajah segala ingatan. Kopi hangat dan petikkan gitarmu yang selalu menemani pagi. Terasa indah dan menyisakan segala kerinduan. Cepatlah berpulang dan aku akan menunggu di tempat biasa kita bertemu. Bertemu untuk sekadar melepas rindu. Aku sumpalkan earphone ke telinga untuk mendengarkan lagu-lagu yang selalu kau nyanyikan setiap bertemu. Dengan seperti ini, membuat   rinduku berkurang karenamu. Bukan aku akan menahanmu pergi untuk menggapai mimpi, karena itu pilihanmu. Aku akan baik-baik saja dan melakukan aktivitas seperti biasa. Meskipun, dalam kesibukanku yang teringat adalah namamu. Nyatanya, kamu telah memiliki ruang tersendiri dalam pikiranku. Jangan terlalu memikirkanku dan fokuslah dalam menggapai impianmu. Karena kita sama-sama punya mimpi. Meskipun ny...

Sepenggal Kenangan

Sepenggal Kenangan Terdengar alunan piano yang sering kamu mainkan setiap sore di kala itu. Hatiku bergetar, lidahku kelu, inginku berteriak memanggil namamu. Tetapi kenapa malah menjadi bungkam bagai orang bisu? Ini nyata? Oh tidak, ternyata ini ilusi belaka. Tanpa kehadiranmu terasa asing dan ada yang kurang bagiku. Bagaimana tidak? Jika dahulu kamu selalu ada di setiap saat untukku. Kali ini aku harus berusaha keras berdiri sendiri tanpa kehadiranmu. Aku terdiam, duduk sendiri dalam sepi, meratap, menatap ombak yang bergulung menghampiri. Di sinilah aku sekarang, di tempat di mana kita berjanji untuk selalu bertemu. Dengan sebuah harapan bahwa kau akan kembali hadir seperti di kala itu. Meskipun, hanya untuk bertemu dan menikmati senja yang begitu sempurna menampakkan semburat kekuningannya. Tuts-tuts piano yang kamu mainkan bahkan samar-samar masih terdengar bersama suara pemecah ombak. Menghilangkan keheningan ketika pantai mulai menyepi dan tak menampakkan senja yang terl...