Postingan

Penyembuh Lara

Kini aku berteman dengan sepi. Luka yang kamu goreskan menganga tanpa penyembuhnya. Terguyur hujan kian membuatku merana. Jika hujan bisa meluruhkan ingatan aku akan hujan-hujanan tanpa henti. Tapi nyatanya tidak. Luka ini terlalu mendadak. Sedetak seperti kepergianmu. Bagaimana bisa aku mengubur kenangannya? Jika terlalu banyak kenangan yang telah tertata. Bahkan memoriku selalu tentangmu. Salahkah jika aku masih mengingatmu? Salahkah jika aku masih mengharapkanmu? Hari telah berganti minggu. Minggu telah berganti bulan. Dan bulan telah berganti tahun. Seperti terkurung dalam ingatan yang tak akan terlupa. Malam yang dingin kian menusuk. Menambah lara yang masih terpelihara. Seperti terpagar besi tinggi. Hati ini telah kamu kunci. Dan membutuhkan kunci baru untuk membukanya. Kini hidupku berantakan. Pergimu yang kau anggap tak ada arti. Membuatku takut untuk mengenal kembali seseorang. Gesekan biola mengalun nada indah. Kini menggetarkan jiwaku. Itukah kamu? Karena lewat n...

Ketika Cinta Mewujudkan Impian (Setetes Tinta Hitam)

Hari ini cuaca sangat cerah, secerah hati Reina yang semangat sekali untuk berangkat sekolah, sudah sejak tadi pagi persiapannya sudah selesai, entah apa yang membuatnya seperti ini, biasanya bangun aja harus dibangunin mamanya, dengan rambutnya yang dikucir asal-asalan membuatnya tambah cantik tambah juga kulit putih langsat dan lesung pipinya membuat tambah imut. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya dari bawah. Ya siapa lagi kalau bukan mamanya. Mama Reina : “Reina, sayang jangan lupa sarapan dulu ya. Papa sama adik kamu sudah nungguin di meja makan.” (teriak mama) Reina : “Iya ma, sebentar lagi.” (sambil bercermin) Di meja makan Papa Reina : “Rey, gimana sekolah kamu ?” Reina : “Baik, pa.” (sambil menyantap roti tawar yang sudah diolesi mentega) Reina : “Oh iya pa, ma aku berangkat dulu ya.” Ntar bisa terlambat nih.” (tambahnya lagi) Reina langsung mencium tangan pap dan mamanya, lalu menyambar tasnya dan melesat pergi. Papa Reina : “Papa antar saja y...

REVIEW NOVEL “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”

REVIEW NOVEL “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” Judul : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Pengarang : Tere Liye Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tebal : 264 halaman Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih di kepang dua. Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah…. Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun..daun yang tidak p...

Review Film Live Action Anohana

Gambar
“Persahabatan yang di bangun sejak kecil tetapi bubar begitu saja ketika salahsatu di antara mereka ada yang meninggal dunia. Kejadian itu menyebabkan mereka menyalahkan diri-sendiri dan memilih jalannya masing-masing.” Source : google Pertamakalinya nonton film ini tahun 2016 di mana teman sekelas merekomendasikan dan berakhir untuk menonton film bersama di dalam kelas. Cerita yang di kemas membuat haru dan menitikkan airmata seluruh teman sekelasku. Masih ingat betul waktu itu, hingga aku kemarin memutuskan untuk menonton ulang film ini (sekalian nostalgia gitu ceritanya :v). Sudah ketiga kalinya tetapi saya tetap terhanyut dalam alur ceritanya. Pokoknya siapin tisu banyak-banyak deh kalau mau nonton film ini. hehehehe. Film ini mengisahkan persahabatan yang dinamakan “Super Peace Busters” yang bertekad untuk menciptakan perdamaian dan akan bersahabat selamanya. Tetapi semuanya sirna ketika salahsatu anggota mereka “Menma” meninggal dunia dikarenakan jatuh ke dalam ju...

Review Cerpen "Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan"

Gambar
Untuk memenuhi tugas ODOP Batch 6 Fiksi. Cerita yang di ambil dari www.lakonhidup.com saya tertarik untuk mereview cerpen yang berjudul “Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan.” Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan ilustrasi Ampun Sutrisno/ Kompas Pertamakali melihat judul cerpen ini membuatku penasaran bagaimana seseorang menginginkan kematian? Apakah amal perbuatan di dunia sudah cukup untuk bekal di akhirat kelak? Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membaca cerpen ini. Cerita ini mengisahkan seorang kakek yang sudah berusia 90 tahun dan sudah merasa bosan dengan kehidupannya yang kesepian. Hal itu, dituliskan sebagai sajian pembuka cerita sebagai berikut : “Menjelang usia ke-90, aku mulai merasakan ksesepian yang sangat. Di dalam ruang jiwaku, kegelapan seolah menyelimuti hidupku yang pahit. Aku tak lagi mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini. Keadaan ini, membuatku merasa tidak bahagia lagi. Pohon-pohon yang bergoyang di halaman rumah,...

Asmara Sunan Kalijaga dengan Nyi Roro Kidul

zaman dahulu terjadi kisah asmara Nyi Roro Kidul dengan Sunan Kalijaga di mulai ketika Sunan Kalijaga menemui Nyi Roro Kidul untuk meminjam tombak untuk melawan Prabu Siliwangi. “Maaf Sunan, saya tidak bisa menyerahkan tombak itu tanpa bukti dari Sunan Gunung Jati untuk meminjamkan tombak.” tegas Nyi Roro Kidul. Sunan Kalijaga memutuskan untuk mengajak Nyi Roro Kiduk untuk menemui Sunan Gunung Jati. Pada akhirnya Sunan Gunung Jati meminta Nyi Roro Kidul untuk menyerahkan tombak itu karena satu-satunya jalan untuk mengalahkan Prabu Siliwangi. “Tapi Sunan, tombak ini hanya akan saya serahkan kepada suamiku kelak.” Nyi Roro Kidul tidak setuju untuk menikah dengan Sunan Kalijaga yang tidak mencintainya. “Apakah Kanda hanya akan menikah demi tombak itu?” tanya Nyi Rai Ajibeling “Aku tidak bisa menyerah begitu saja Kakanda.” yang pada akhirnya Sunan Gunung Jati menyuruh Sunan Kalijaga untuk menikah dengan Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul pada awalnya tidak menerima Sunan Kalija...

Puisi Tentangmu

Puisi Tentangmu Oleh: Isni Ngalifah Kamu seperti pagi Yang datang dengan senyum Dan juga seperti senja Yang pergi meninggalkan gelap Tentangmu Penyuka puisi dan bait-bait kata indah Penyuka malam yang bertaburkan bintang Dentingan pianomu yang terdengar indah Tetapi membawa lara dalam setiap jiwa Terimakasih telah mengajarkan cinta Terimakasih telah membuat lara Hingga aku tau ke mana seharusnya pergi Tak pernah ada sesal dalam setiap perjalanan Karena segalanya membawa hikmah dan pelajaran Tentangmu yang pernah datang dan pergi Terimakasih telah mengukir kebersamaan. #komunitasonedayonepost #odopbatch_6 #postinganbebas